Kamis, 27 November 2008

Sang Penandai


SAMPUL

Tentang sampul, kalo boleh dibilang Sang Penandai cukup bagus dalam membuat sampulnya. Gambar kelima tokoh utama dan siluet sebuah kapal di latar belakang cukup memberi gambaran tentang isi cerita yang sebagian besar berkisah tentang penjelajahan laut dan ilustrasi tokoh utamanya cukup memberi gambaran tentang tokoh utama yang akan berperan dalam cerita ini nantinya. Hanya saja, ada sedikit ganjalan. Mungkin ada beberapa orang yang beda pendapat, tapi gambar ilustrasi para tokoh yang terdapat pada sampul depan novel ini terasa mirip dengan karakter-karakter yang ada di LOTR. Sang Penandai berjubah putih terasa begitu mirip dengan Gandalf; Laksamana Ramirez yang memegang pedang bisa disamakan dengan Aragorn; dan sosok Jim terasa mirip dengan Frodo. Mungkin ini bukan merupakan suatu kesengajaan dari sang illustrator, tapi kemiripan seperti ini yang dulu sempat bikin aku mengembalikan buku ini ke dalam rak, bukannya ke tas belanja. Sampai akhirnya adaperdebatan tentang isi novel ini di internet dan menjadi penasaran sendiri dengan isinya sampai aku cari lagi.

Pada sampul belakang, warnanya terkesan gelap dengan sedikit “noda” warna terang. Seperti novel Tere-Liye lainnya yang sempat aku temukan di toko buku, bagian belakang novel ini begitu penuh dengan endorsement sampai-sampai tidak ada tempat untuk sinopsis cerita. Entah apa ini memang strategi dari mas Tere sendiri atau bukan, tapi sampul belakang tanpa sinopsis ini tidak berhasil membuatku tertarik dengan isi bukunya. Setidaknya, sampai ada perdebatan seru di internet antara pendukung dan pencela novel ini yang akhirnya memaksa aku hunting novel ini sekali lagi.

Dan, berbicara tentang endorsement yang terdapat di bagian belakang novel ini, terdapat beberapa nama yang sudah cukup terkenal memberikan endorsement untuk buku ini. Seperti penulis novel terkenal, Habiburrahman El Shirazy, dan penyair Taufiq Ismail. Bagi penggemar karya-karya kedua orang tersebut, pasti menjadi ingin tahu tentang isi dari novel ini.

MAIN STORY

Main story. Seperti yang sudah banyak beredar di internet, dan dari sampul depannya, setting cerita dalam novel ini banyak terdapat di sebuah ekspedisi perjalanan sebuah armada kapal, yang diberi nama Armada Kota Terapung, untuk menemukan Tanah Harapan. Karakter utama yang menjadi mata pembaca sepanjang cerita adalah Jim, seorang kelasi yang beberapa hari sebelum Armada Kota Terapung berlabuh di kotanya, kehilangan sang kekasih hati akibat bunuh diri. Setelah sang kekasih pergi, Jim didatangi oleh seorang pria tua misterius yang mengaku bernama Sang Penandai. Sang Penandai mengaku kepada Jim kalau ia adalah sang pembuat dongeng. Ia membuat orang-orang menjalani kisah bagai dongeng untuk akhirnya diceritakan kepada orang lain.

Seolah untuk menekankan perannya sebagai pemandu cerita, ia menceritakan kepada Jim pendapatnya tentang sebuah cerita yang sudah melegenda 400 tahun di kota tempat asal Jim. Bahkan mengaku berada disana dan memandu tokoh utama dalam dongeng tersebut. Akhirnya ia malah merendahkan dongeng tersebut dengan menyebutnya bodoh. Setiap orang bisa berpendapat berbeda tentang Sang Penandai pada saat ini, tapi menurutku pendapatnya itu justru membuatku mempertanyakan konsistensi sifat dan perannya sebagai pembuat dongeng.

Begini, Sang Penandai pada awal cerita sampai pada akhirnya selalu mengatakan kalau perannya adalah membuat dongeng yang nantinya bisa dikenang dan diceritakan kepada orang di seluruh dunia. Tapi sekalinya ada sebuah dongeng yang begitu melegenda, bertahan sampai ratusan tahun, bahkan menjadi sebuah tradisi di kota itu malah dikatakan bodoh olehnya. Padahal dia sendiri mengaku ikut membantu pembuatan dongengnya! Sesuatu yang sampai akhir buku tidak dijelaskan kenapa.

Cerita berlanjut dengan Jim akhirnya mengikuti ekspedisi Armada Kota Terapung mencari Tanah Harapan. Disini Jim berteman dengan sesama kelasi bernama Pate (yang sampe sekarang aku ga tau dibaca pake cara baca orang Indonesia, ato orang Inggris?). Setelah beberapa lama, halangan besar pertama bagi Armada Kota Terapung akhirnya muncul. Pasukan perompak Yang Zhuyi.

Dikisahkan kalau empat puluh kapal Armada Kota Terapung berhadapan dengan ribuan kapal milik perompak Yang Zhuyi. Dengan perbedaan kekuatan sebesar itu pun Yang Zhuyi tidak langsung menyerang habis-habisan armada pimpinan Laksamana Ramirez, tetapi menyerang perlahan-lahan dengan mengirim ribuan kapal kecil (seperti kano, IIRC). Dengan cara ini, Yang Zhuyi seolah-olah memaksa Laksamana Ramirez bertarung hand-to-hand di atas kapal, bukannya saling tembak peluru meriam. Peluru meriam memang sempat ditembakkan oleh sang Laksamana dalam serangan pertama Yang Zhuyi, tapi dikisahkan kalau peluru meriam ini tidak berguna. Tapi, bagaimana bisa? Tiga puluh kapal perang dengan sepuluh meriam pada tiap sisinya berarti bisa menembakkan tiga ratus peluru meriam sekali tembak! Kalaupun tidak kena semua, setelah beberapa kali tembakan, berarti sekitar seribu peluru ditembakkan, kalo kena sebagian, paling nggak keliatan efeknya ke kapal kecil Yang Zhuyi itu. Masa segitu banyak peluru meleset semua?!

Yang juga bikin aku kaget adalah, setelah tembakan dari tiga puluh kapal itu, kapal-kapal kecil dari Yang Zhuyi kelihatannya tahan ombak. Tidak ada yang terbalik karena diterjang ombak. Padahal, kalo dalam imajinasiku, sewaktu tiga ratus peluru meriam yang gede amit-amit itu menghantam laut pada waktu bersamaan, paling nggak bakal ada gelombang yang cukup buat mengombang-ambingkan kapal kecil segitu banyak. Dan kalo pelurunya sampe ratusan gitu, bukan ga mustahil kan itu kapal kecil bakal kebalik gara-gara ombak?

Pertempuran maha dahsyat ini juga berlangsung lama banget. Sampe sekitar satu bulan kalo aku ga salah inget. Dan dalam pertempuran selama itu aku makin ngerasa kalo Laksama Ramirez itu lemah banget. Bayangin, dia diserang berhari-hari sama musuh yang pake strategi yang sama terus-terusan, dan dia ga bisa bikin strategi balasan buat ngelawan strategi andalan musuhnya itu? Lame! Berakhirnya pertempuran itu juga parah banget. Bikin aku keluarin pertanyaan yang udah aku pernah tanya di Fireheart: “Kenapa ga dipake dari tadi?!” Sampe mesti nunggu satu orang tua cerewet muncul buat ngasi tau strategi yang kayanya justru udah disiapin sama Laksamana sendiri! Payah. Dan kalo emang Laksamana iu kewalahan ngelawan pasukan perompak itu, kenapa dia gak mundur aja? Toh, dia cuman dihadang sama mereka, yang berarti jalan dia buat kabur masih kebuka lebar banget! Kenapa ga lari buat minta pertolongan misalnya, daripada ngabisin sekian banyak waktu ngorbanin bahan makanan, nyawa pasukan, dan satu kesempatan ketemu sama Sang Penandai.

Selesai menghadapi Yang Zhuyi, perjalanan ekspedisi pimpinan Laksamana Ramirez terpaksa berhenti sebentar di kota pelabuhan terdekat buat ngereparasi kapal-kapalnya. Selama waktu itu, Jim sama Pate berkelana sampai ke puncak Adam, dimana di dekat puncak itu Jim sempat bertemu dengan seorang gadis yang sempat membuat dia jatuh cinta. Tapi sayang, akhirnya Jim harus meninggalkan gadis itu dan ikut serta kembali bersama dengan Armada Kota Terapung.

Ekspedisi terus berlanjut sampai berbulan-bulan. Armada kapal Laksama Ramirez terus bertahan empat bulan di atas laut tanpa menepi berkat jaring raksasa pemberian walikota tempat mereka berlabuh sebelumnya. Sejujurnya, aku agak ngerasa aneh mbayangin kapal besar seperti kapal Laksamana Ramirez buang sauh buat ngelempar jaring dan nyari ikan. Soalnya aku ngerasa selama ini kapal yang cari ikan pake cara kaya gitu cuma kapal nelayan. Tapi berhubung pengetahuanku soal kapal dan mencari ikan kaya gini ga terlalu banyak, aku komentar segini aja.

Akhirnya kapal Laksamana sampai di kota baru, kota Champa yang deskripsi latarnya rasanya mirip-mirip sama Negara Cina. Di kota ini, Laksamana dan pasukannya membantu penduduk kota menghadapi pemberontak yang jago ilmu kung fu. Tapi masalahnya justru jauh lebih besar bagi Jim, karena di kota ini Jim bertemu dengan seseorang yang bisa dibilang tiruan sempurna dari Nayla-nya. Mulai dari wajah hingga suara, semuanya mirip! Perasaan Jim terombang-ambing lagi. Apalagi setelah walikota menawarkan anaknya, yang mirip dengan Nayla itu, menjadi istri Jim dan Jim bisa tinggal dengan segala kemewahan pemimpin kota. Pilihan Jim terbagi antara menerima tawaran dan menjadi calom pemimpin kota, atau ikut kembali bersama Laksamana untuk menemukan Tanah Harapan? Sebuah pilihan yang sulit, tapi akhirnya Jim lebih memilih meninggalkan kota itu dan membantu Laksamana.

Perjalanan hampir mencapai akhir. Armada Kota Terapung terus berlayar di daerah lautan yang seolah tak bertepi. Entah berapa lama mereka berlayar dengan hanya melihat laut, laut, dan laut. Tanpa ada kejelasan bahwa mereka akan segera sampai menuju Tanah Harapan. Kondisi ini akhirnya memaksa sebagian prajurit dan kelasi memulai pemberontakan di atas Armada Kapal, bahkan sampai menyerang kapal utama tempat sang Laksamana berada. Akhirnya Laksamana memerintahkan perlawanan penuh terhadap para pemberontak, walau sebenarnya aku lebih mengharapkan Laksamana untuk menunjukkan kemampuan memimpinnya disini. Aku ingin lihat kemampuan diplomasi dan leadershipnya yang membuat dia bisa menjadi Laksamana dengan memberi satu perintah, atau penjelasan kepada prajuritnya sebelum akhirnya memilih menggunakan kekerasan. Memang dia kalah suara dalam rapat dengan para pemimpin kapal lainnya, Laksamana menginginkan damai sementara pemimpin kapal lainnya meminta kekerasan. Tapi justru disitu seharusnya kemampuan sebagai Laksamana ditunjukkan! Dia harus bisa dan berani menjalankan apa yang menjadi keputusannya sendiri walau menentang pendapat banyak pihak. Karena, dia laksamana-nya! Perintah dia atas seluruh kapal adalah mutlak! Dia harusnya lebih berani dalam menentang keputusan pemimpin kapal lainnya dan mencoba bernegosiasi dengan para pemberontak terlebih dulu.

Keudian, akhir cerita. Aku nggak mau banyak spoiler disini, karena itu hartanya penulis, tapi aku mau bilang kalo aku kecewa sama endingnya. Setelah sekian banyak petualangan dan perjuangan yang dilalui Jim dan kawan-kawannya, kenapa ending ekspedisi kapalnya malah cuma begitu aja? Padahal kalo mau dipanjangin lagi juga ga masalah tuh. Perjumpaan dengan Sang Penandai di akhir cerita juga yang bikin aku kecewa. Seperti yang dulu pernah di bahas di salah satu forum di internet, akhir cerita ini Sang Penandai bukannya menolong Jim yang memanggilnya malah ceramah panjang lebar entah berapa halaman tentang akhir yang seharusnya dilalui Jim. Padahal Jim sudah melalui semua petualangan itu sendiri, seharusnya dia bisa membuat kesimpulan sendiri! Gak perlu penjelasan panjang lebar dari orang yang ga nolongin dia sewaktu dia perlu!

GAYA PENULISAN

Hmm, oke. Sekarang mbahas soal gaya penulisan Tere-Liye. Komentar pertama dari gaya penulisannya adalah, bingung. Aku bingung sama sudut pandang yang dipake sang penulis, juga soal setting tempatnya. Awalnya, berdasarkan review yang aku baca di internet, aku anggep cerita ini ngambil setting di abad pertengahan. Standar gimana orang Indonesia bikin cerita fantasi. Tapi kemudian aku ketemu kata "kantor" disini. Otomatis aku jadi pindah pikiran, mbayangin kalo mungkin settingnya udah modern dikit. Jadi aku bayangin setting kotanya mirip-mirip sama London abad 19. Ternyata kemudian senjata utama para tokoh disini adalah pedang! Lihatlah! Deskripsi settingnya udah bikin aku bingung setengah mati. Jika kalian membaca novel ini dengan asumsi yang aku punya, niscaya kebingungan kalian akan serupa.

Lalu, sudut pandang. Biasanya sudut pandang yang diambil dalam novel fantasi adalah sudut pandang orang ketiga. Tapi dalam novel ini aku merasakan awal cerita seperti diceritakan dengan sudut pandang orang kedua, dengan kata "kalian" tersebar di berbagai tempat. Awalnya aku anggep bagus, baru pertama kali ini aku ketemu sama novel yang pake sudut pandang orang kedua. Tapi tanpa pertanda dan permisi sudut pandang itu diubah menjadi sudut pandang orang ketiga! Apalagi perubahan sudut pandang itu bisa terjadi dalam satu paragraf tanpa pemisahan sebelumnya. Lihatlah! Bagaimana penggunaan sudut pandang yang tidak konsisten ini bisa membingungkan orang yang membacanya. Jika kalian melihat wajahku waktu baca novel ini mungkin sudah bertanya-tanya, "Sakit perut kamu, Dan?"

Terus, aku ga tau apa ini kebiasaan atau ciri khas Tere-Liye, tapi buku ini ditulis dengan menggunakan kalimat yang bernada puitis. Lengkap dengan penjabaran emosi sang karakter melalui gaya puitisnya, sampai ke penemuan kosa-kata baru dari Tere-Liye untuk mengakomodasi gaya penulisan puitisnya. Dan, walau bagi sebagian orang gaya tulisan ini mungkin bisa dibilang bagus atau indah, aku malah ngerasa asing dan kadang-kadang ketawa sendiri waktu baca tulisan puitisnya itu. Mungkin agak sedikit menyinggung, tapi coba aku kasih contoh tulisannya.

Semua terlihat jingga. Matahari senja hampir terbenam di ufuk barat. Langit berwarna jingga. Buih ombak laut yang tenang memantulkan warna jingga. Bangunan-bangunan kota terlihat jingga. Pasir yang dipijak berwarna jingga. Gumpalan awan putih terlihat kemerah-merahan, jingga.

Hati Jim juga sedang jingga.


Nah! Ini cuman salah satu kalimat yang bikin aku ketawa waktu baca novel ini. Mungkin sang penulis sedang mencoba menjelaskan kondisi kota waktu itu yang penuh warna jingga. Tapi apa hubungannya warna itu sama kondisi hati Jim? Sampe nyebut hati Jim sedang jingga, emang hati jingga apa artinya?

Itu baru satu contoh dari sekian banyak kalimat puitis yang dibuat Tere-Liye dan salah satu contoh yang bikin aku ketawa. Selain kalimat puitis, Tere-Liye juga sering mengungkapkan perasaan karakter, atau apa yang dilakukan karakter dengan kalimat-kalimat pendek. Sering cuma dengan satu kata. Terkadang, cara ini berhasil, tapi terkadang juga aku rasa ga pas dan malah membuatku ga bisa masuk kedalam alam pikiran sang tokoh dan tindakannya. Tergantung orangnya juga mungkin.

Selain kalimat puitis dan kalimat-kalimat pendek itu ada satu lagi kebiasaan Tere-Liye, yaitu dia sangat sering menggunakan huruf italic untuk menekankan maksud tulisannya. Terkadang bukan cuma di kalimat2 yang penting tapi kalimat atau kata yang menurutku sama sekali tidak perlu diitalic. Entah kenapa dan apa maksud Tere-Liye dengan cara penulisan seperti ini, tapi yang jelas cara penulisan ini sangat mengganggu proses membaca sampai akhir.

Tapi ada satu yang aku bilang bagus dari novel ini, yaitu kepribadian tiap karakter yang jelas terlihat dari tindak-tanduk dan ucapannya. Khusus untuk Jim, hal ini juga terlihat dari konflik batinnya yang seolah selalu ada dari awal hingga akhir cerita. Sampai ia dijuluki Perwira yang Menangis dan sejenisnya. Walaupun aku agak aneh mbayangin gimana caranya orang bisa berantem sambil nangis gitu.

Ehm, aku ga tau ini penting apa nggak, tapi salah satu “kosakata baru” yang dibuat Tere-Liye disini juga termasuk penggunaan satu kata metafora tanpa pasangannya. Seperti jerih tanpa payah, atau kuyup tanpa basah (yang akhirnya juga jadi suasana hati Jim). Maksudnya emang nangkep tapi sempet bingung juga waktu baca. Dan juga Tere-Liye juga pake istilah Panekuk disini untuk sesuatu seperti prajurit ato semacamnya, sementara setauku Panekuk itu istilah bahasa Indonesia untuk Pancake. Aku ga tau kalo ada istilah lain, tapi jelas ini cukup bikin aku /swt.

Jadi, kesimpulannya novel ini lumayan bagus buat dibaca. Mungkin bisa jadi novel yang bagus banget buat orang yang suka gaya bahasa puitisnya, tapi buat yang ga kebiasa bolehlah dibaca buat selingan dari novel fantasi lokal yang selalu berisi tema “Pahlawan menyelamatkan dunia”

Skor: 3/ 5

3 komentar:

Mantoel Toeink mengatakan...

Wah, kayaknya lain kali dipost jg kover bukunya, jadi org bisa tahu wujud asli "sang kover". :D

Gak beda jauh dgn yg dibahas di forum yah? Rata2 pada mempertanyakan eksperimen2 yg dilakukan pengarang di dlm buku. Eksperimen semacam mengungkapkan isi hati dgn warna dll. Gw bnr2 gak ngeh "hati jingga" itu kyk gimana sbnrnya.

Entah pembaca yg gak bisa menerima atau salah pengarang nih. :D

Padahal pengarangnya kalo gak salah org yg kompeten di bidang sastra yah, tapi isi bukunya jg masih bisa memiliki kelemahan.

Hehe.

sakurazaki mengatakan...

Padahal pengarangnya kalo gak salah org yg kompeten di bidang sastra yah, tapi isi bukunya jg masih bisa memiliki kelemahan.
===========================

Tiada gading yang tak retak~

Ngmg2, si Penandai ini novel tahun berapa sih? Kok gw ga pernah liat di toko buku, ya.

Danny mengatakan...

@Sakura: Ni novel taun 2006. Emang ga heran sih kalo susah nyarinya, aku juga cuman nemu di satu gramedia dari sekian banyak toko buku di Surabaya.