Sabtu, 07 Februari 2009

The Girl Who Loved Tom Gordon

Photobucket

THE GIRL WHO LOVED TOM GORDON



SAMPUL

Kalau dibilang sampul harus melambangkan keseluruhan isi buku, maka sampul buku ini bisa dibilang tepat menggambarkan isi bukunya. Dari sampulnya terlihat seorang anak perempuan seperti sedang berlari menembus cabang dan ranting di dalam hutan. Di bagian atas dan bawah kovernya, tercetak dengan warna kuning emas, judul buku dan nama sang penulis, sang raja horror Stephen King. Dan sepertinya nama King benar2 dipakai sebagai unsur penjual disini, terlihat dari nama King yang dicetak JAUH lebih besar dari judul bukunya sendiri.

Sedikit cuplikan di bagian belakang bukunya juga sudah lebih dari cukup sebagai faktor pengundang memasukkan buku ini ke dalam kantong belanja. Trisha, nama tokoh utama kita, tersesat di tengah hutan sewaktu berjalan-jalan bersama keluarganya. Sebagai gantinya di tengah hutan ia hanya ditemani oleh radio yang menyiarkan pertandingan baseball dari tim kesayangannya, Boston Red Sox, dimana Tom Gordon bermain. Tapi sayangnya dia tidak sendirian di dalam hutan, karena ada sesuatu yang mengikutinya, sesuatu yang menunjukkan keberadaannya hanya dengan bekas cakaran di pohon dan bangkai binatang yang terkoyak.


MAIN STORY

Ceritanya sebagian besar sudah cukup dijelaskan oleh sinopsis di bagian belakang buku. Seorang gadis tersesat dan terus berjalan mencari pertolongan di dalam hutan yang lebat, menyusuri sungai hingga sampai ke rawa2, dan sebagainya. Alur cerita terasa lurus2 saja dengan usaha Trisha mencari jalan keluar dan kesulitannya bertahan hidup di hutan, tidak ada plot twist yang berbeda jauh dari dugaan pembaca. Kadang-kadang ada flashback sedikit tentang kenangan Trisha bersama keluarganya. Terkadang juga ada suara-suara dalam kepala Trisha yang terus mengatakan hal buruk dan menakut-nakutinya selama berada di dalam hutan, menambah kesan nyata dan atmosfer seram dalam cerita.

Tapi sudut pandang tidak dari Trisha saja, kadang sudut pandang diganti menjadi sudut pandang tim pencari dan keluarga Trisha, yang bingung dan harus menerima berbagai macam berita tentang keadaan Trisha. Nah, disini Stephen King menggunakan teknik yang cukup unik, biasanya dalam pergantian sudut pandang ini penulis akan menambah satu baris antara paragraf sudut pandang A dan sudut pandang B, tapi disini Stephen King tidak menggunakan baris tambahan sebagai penanda berubahnya sudut pandang. Hebatnya, walau menggunakan teknik yang tidak umum seperti itu, perubahan sudut pandang tidak terasa mengganggu dan berjalan lancar begitu saja.

Sementara itu, makhluk yang mengikuti Trisha semakin lama semakin jelas menunjukkan keberadaannya. Mulai dari jejak kaki, bangkai binatang, hingga akhirnya ia benar2 muncul di depan Trisha. Dan ia kelihatan sangat ingin mencabik lagi.

GAYA BAHASA

Cara Stephen King membuka cerita, ia mengawalinya dengan menceritakan bahwa Trisha akan segera tersesat di hutan, walau pun saat itu Trisha masih duduk menikmati sarapannya. Teknik menceritakan apa yang akan terjadi berikutnya ini juga sering digunakan oleh King dalam cerita nantinya. Selain itu King juga menuliskan dengan detail semua medan yang dilalui Trisha dalam hutan, baik itu tebing tinggi ataupun rawa2 yang memendam tubuh Trisha sampai sepinggangnya, semuanya digambarkan dengan detail tanpa membuat mata dan pikiran lelah. Sayangnya, karena aku sendiri belum pernah masuk ke dalam hutan kaya dalam cerita ini, aku kadang agak sulit membayangkan suasananya, tapi itu masalahku sendiri aja kok yang mungkin orang lain ga kerasa.

Dalam ceritanya Trisha hampir selalu sendiri, kecuali ketika terdengar suara ranting patah atau langkah kaki yang berat. Dan selama itu pula pembaca disuguhi ratapan dan kalimat kekesalan Trisha ketika tersesat di dalam hutan. Tapi isi dialog novel ini bukan hanya sekedar monolog saja. Dalam ketakutannya, Trisha membuat sebuah imajinasi Tom Gordon yang sedang berdiri menemaninya, mendampinginya sepanjang perjalanan. Bahkan terkadang memberi kalimat yang menenangkan hati Trisha.

Overall, karya King ini memang benar2 hebat. Ga akan rugi kalo diambil dari rak toko buku.

Skor: 4/ 5

Senin, 22 Desember 2008

The Old Man and The Sea

Oke, aku tau dulu aku pernah bilang ini cerita mungkin ga aku resensi, tapi rasanya ga tahan juga kalo mbiarin buku bagus kaya gini ga disebar ke orang lain. Lagian, produksi baca buku sekarang lagi berkurang, jadi aku kirim ini aja dulu.


Sampul
Sampul dari karya masterpiece buatan Ernest Hemingway ini cukup sederhana, gambar seekor ikan pedang dengan sirip yang luar biasa besar sedang melompat keluar dari dalam air. Background-nya putih, sementara warna air lautnya sendiri dibagi menjadi tiga warna biru yang berbeda-beda. Cukup sederhana dan juga cukup menggambarkan isi ceritanya tentang perjuangan seorang nelayan tua menangkap ikan raksasa. Nama pengarang di bagian atas dicetak dengan huruf berwarna emas yang keren dengan ukuran yang hampir sama dengan ukuran huruf judulnya sendiri, sepertinya memang untuk menonjolkan nama Hemingway sendiri. Satu tambahan terakhir dari sampul depan novel ini adalah sebua stempel karya Masterpiece warna merah yang memang cocok diberikan pada novel ini.

Sementara di sampul belakang tidak tertulis sinopsis singkat novel ini. Tidak juga berisi endorsement dari orang-orang penting tentang betapa dahsyatnya karya Hemingway ini, melainkan berisi pencapaian prestasi Hemingway dalam dunia tulis menulis, antara lain hadiah Pulitzer pada tahun 1953; Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters juga pada tahun 1953; dan penghargaan paling bergengsi dalam dunia kepenulisan, yakni Nobel Sastra pada tahun 1954! Sebuah bukti kedahsyatan karya Hemingway. Ditambah juga sedikit pujian penerbit atas eksekusi Hemingway dalam penulisan novelnya ini.

Main Story
Cerita dalam buku ini sebenarnya sederhana, perjuangan mati-matian seorang nelayan tua dalam menangkap ikan, dimana sebelumnya selama sekitar 84 hari dia tidak pernah menangkap satupun ikan. Santiago, nama nelayan tua itu, sangat ingin mendapatkan ikan walau cuma seekor demi mengakhiri nasib buruknya. Di permulaan buku, dia sering sekali berkata kalau nasib sialnya akan hilang dalam 84 hari, dan pada hari ke 85 nasib baiknya akan muncul lagi. Pada hari ke 85 Santiago akhirnya berlayar sendirian ke lautan yang lebih jauh dan dalam dari laut yang biasa dilayarinya sendirian. Tanpa bantuan dari seorang bocah laki-laki yang bertekad ingin membantunya di hari ke 85-nya.

Singkat cerita, Santiago mulai memancing, beberapa kail sekaligus. Awalnya ia tidak mendapat apa-apa, samai akhirnya keberuntungan yang ditunggu-tunggunya itu datang juga. Seekor ikan yang luar biasa besar menangkap umpannya dan kail pancingnya terus terkait pada mulut ikannya. Santiago akhirnya harus berjuang habis-habisan menarik sang ikan sampai dia berhasil diangkut ke atas kapalnya, walaupun ikan itu telah menariknya sampai tiga hari tiga malam di atas kapalnya!

Ceritanya dalam novelette ini bukan tentang penyelamatan dunia ataupun pencarian jati diri melainkan tentang perjuangan. Bagaimana semangat dan sikap keras kepala Santiago terus menyala dalam dirinya selama tiga hari di atas lautan bersama ikan yang ganas. Diakhiri dengan ending yang sangat pas pula. Sangat puas rasanya membaca novelette satu ini.

Gaya Penulisan
Aku nggak bisa bilang apa-apa soal gaya penulisannya selain gaya penulisannya benar-benar hebat dan dahsyat. Aku tidak bisa menemukan satupun kekurangan dalam gaya penulisannya karena memang tidak merasa sedang membaca buku. Seringkali adegan-adegan dalam buku ini terbayang dalam kepala seperti sedang melihat film. Cara Hemingway membawa pembaca dari halaman awal cerita sampai halaman akhirnya, wlaaupun tidak dibagi dalam bab-bab, membuatku tidak bisa melepaskan buku ini sampai jauh tengah malam. Belum lagi monolog Santiago ketika di tengah lautan, sendiri, dan berharap dia membawa garam.

Singkat kata, buku yang harus dibaca oleh semua orang, apalagi yang ingin belajar cara membuat cerita yang dahsyat. Kalaupun harus kucari kelemahannya, itu mungkin ada di terjemahan dan beberapa istilah kapal yang aku ga tau, tapi ga terlalu mempengaruhi keasyikan membaca kok. Oh, ya, dan harga yang terlalu murah. Karya luar biasa seperti dijual cuma dengan harga Rp 31.000 padahal ada banyak buku lain yang kualitasnya ga seberapa dibanding buku ini dijual dengan harga yang jauh lebih mahal, padahal kalau buku ini dijual dengan harga yang lebih mahal juga setimpal kok dengan kualitasnya.

Skor: 4,5/ 5

Kamis, 27 November 2008

Sang Penandai


SAMPUL

Tentang sampul, kalo boleh dibilang Sang Penandai cukup bagus dalam membuat sampulnya. Gambar kelima tokoh utama dan siluet sebuah kapal di latar belakang cukup memberi gambaran tentang isi cerita yang sebagian besar berkisah tentang penjelajahan laut dan ilustrasi tokoh utamanya cukup memberi gambaran tentang tokoh utama yang akan berperan dalam cerita ini nantinya. Hanya saja, ada sedikit ganjalan. Mungkin ada beberapa orang yang beda pendapat, tapi gambar ilustrasi para tokoh yang terdapat pada sampul depan novel ini terasa mirip dengan karakter-karakter yang ada di LOTR. Sang Penandai berjubah putih terasa begitu mirip dengan Gandalf; Laksamana Ramirez yang memegang pedang bisa disamakan dengan Aragorn; dan sosok Jim terasa mirip dengan Frodo. Mungkin ini bukan merupakan suatu kesengajaan dari sang illustrator, tapi kemiripan seperti ini yang dulu sempat bikin aku mengembalikan buku ini ke dalam rak, bukannya ke tas belanja. Sampai akhirnya adaperdebatan tentang isi novel ini di internet dan menjadi penasaran sendiri dengan isinya sampai aku cari lagi.

Pada sampul belakang, warnanya terkesan gelap dengan sedikit “noda” warna terang. Seperti novel Tere-Liye lainnya yang sempat aku temukan di toko buku, bagian belakang novel ini begitu penuh dengan endorsement sampai-sampai tidak ada tempat untuk sinopsis cerita. Entah apa ini memang strategi dari mas Tere sendiri atau bukan, tapi sampul belakang tanpa sinopsis ini tidak berhasil membuatku tertarik dengan isi bukunya. Setidaknya, sampai ada perdebatan seru di internet antara pendukung dan pencela novel ini yang akhirnya memaksa aku hunting novel ini sekali lagi.

Dan, berbicara tentang endorsement yang terdapat di bagian belakang novel ini, terdapat beberapa nama yang sudah cukup terkenal memberikan endorsement untuk buku ini. Seperti penulis novel terkenal, Habiburrahman El Shirazy, dan penyair Taufiq Ismail. Bagi penggemar karya-karya kedua orang tersebut, pasti menjadi ingin tahu tentang isi dari novel ini.

MAIN STORY

Main story. Seperti yang sudah banyak beredar di internet, dan dari sampul depannya, setting cerita dalam novel ini banyak terdapat di sebuah ekspedisi perjalanan sebuah armada kapal, yang diberi nama Armada Kota Terapung, untuk menemukan Tanah Harapan. Karakter utama yang menjadi mata pembaca sepanjang cerita adalah Jim, seorang kelasi yang beberapa hari sebelum Armada Kota Terapung berlabuh di kotanya, kehilangan sang kekasih hati akibat bunuh diri. Setelah sang kekasih pergi, Jim didatangi oleh seorang pria tua misterius yang mengaku bernama Sang Penandai. Sang Penandai mengaku kepada Jim kalau ia adalah sang pembuat dongeng. Ia membuat orang-orang menjalani kisah bagai dongeng untuk akhirnya diceritakan kepada orang lain.

Seolah untuk menekankan perannya sebagai pemandu cerita, ia menceritakan kepada Jim pendapatnya tentang sebuah cerita yang sudah melegenda 400 tahun di kota tempat asal Jim. Bahkan mengaku berada disana dan memandu tokoh utama dalam dongeng tersebut. Akhirnya ia malah merendahkan dongeng tersebut dengan menyebutnya bodoh. Setiap orang bisa berpendapat berbeda tentang Sang Penandai pada saat ini, tapi menurutku pendapatnya itu justru membuatku mempertanyakan konsistensi sifat dan perannya sebagai pembuat dongeng.

Begini, Sang Penandai pada awal cerita sampai pada akhirnya selalu mengatakan kalau perannya adalah membuat dongeng yang nantinya bisa dikenang dan diceritakan kepada orang di seluruh dunia. Tapi sekalinya ada sebuah dongeng yang begitu melegenda, bertahan sampai ratusan tahun, bahkan menjadi sebuah tradisi di kota itu malah dikatakan bodoh olehnya. Padahal dia sendiri mengaku ikut membantu pembuatan dongengnya! Sesuatu yang sampai akhir buku tidak dijelaskan kenapa.

Cerita berlanjut dengan Jim akhirnya mengikuti ekspedisi Armada Kota Terapung mencari Tanah Harapan. Disini Jim berteman dengan sesama kelasi bernama Pate (yang sampe sekarang aku ga tau dibaca pake cara baca orang Indonesia, ato orang Inggris?). Setelah beberapa lama, halangan besar pertama bagi Armada Kota Terapung akhirnya muncul. Pasukan perompak Yang Zhuyi.

Dikisahkan kalau empat puluh kapal Armada Kota Terapung berhadapan dengan ribuan kapal milik perompak Yang Zhuyi. Dengan perbedaan kekuatan sebesar itu pun Yang Zhuyi tidak langsung menyerang habis-habisan armada pimpinan Laksamana Ramirez, tetapi menyerang perlahan-lahan dengan mengirim ribuan kapal kecil (seperti kano, IIRC). Dengan cara ini, Yang Zhuyi seolah-olah memaksa Laksamana Ramirez bertarung hand-to-hand di atas kapal, bukannya saling tembak peluru meriam. Peluru meriam memang sempat ditembakkan oleh sang Laksamana dalam serangan pertama Yang Zhuyi, tapi dikisahkan kalau peluru meriam ini tidak berguna. Tapi, bagaimana bisa? Tiga puluh kapal perang dengan sepuluh meriam pada tiap sisinya berarti bisa menembakkan tiga ratus peluru meriam sekali tembak! Kalaupun tidak kena semua, setelah beberapa kali tembakan, berarti sekitar seribu peluru ditembakkan, kalo kena sebagian, paling nggak keliatan efeknya ke kapal kecil Yang Zhuyi itu. Masa segitu banyak peluru meleset semua?!

Yang juga bikin aku kaget adalah, setelah tembakan dari tiga puluh kapal itu, kapal-kapal kecil dari Yang Zhuyi kelihatannya tahan ombak. Tidak ada yang terbalik karena diterjang ombak. Padahal, kalo dalam imajinasiku, sewaktu tiga ratus peluru meriam yang gede amit-amit itu menghantam laut pada waktu bersamaan, paling nggak bakal ada gelombang yang cukup buat mengombang-ambingkan kapal kecil segitu banyak. Dan kalo pelurunya sampe ratusan gitu, bukan ga mustahil kan itu kapal kecil bakal kebalik gara-gara ombak?

Pertempuran maha dahsyat ini juga berlangsung lama banget. Sampe sekitar satu bulan kalo aku ga salah inget. Dan dalam pertempuran selama itu aku makin ngerasa kalo Laksama Ramirez itu lemah banget. Bayangin, dia diserang berhari-hari sama musuh yang pake strategi yang sama terus-terusan, dan dia ga bisa bikin strategi balasan buat ngelawan strategi andalan musuhnya itu? Lame! Berakhirnya pertempuran itu juga parah banget. Bikin aku keluarin pertanyaan yang udah aku pernah tanya di Fireheart: “Kenapa ga dipake dari tadi?!” Sampe mesti nunggu satu orang tua cerewet muncul buat ngasi tau strategi yang kayanya justru udah disiapin sama Laksamana sendiri! Payah. Dan kalo emang Laksamana iu kewalahan ngelawan pasukan perompak itu, kenapa dia gak mundur aja? Toh, dia cuman dihadang sama mereka, yang berarti jalan dia buat kabur masih kebuka lebar banget! Kenapa ga lari buat minta pertolongan misalnya, daripada ngabisin sekian banyak waktu ngorbanin bahan makanan, nyawa pasukan, dan satu kesempatan ketemu sama Sang Penandai.

Selesai menghadapi Yang Zhuyi, perjalanan ekspedisi pimpinan Laksamana Ramirez terpaksa berhenti sebentar di kota pelabuhan terdekat buat ngereparasi kapal-kapalnya. Selama waktu itu, Jim sama Pate berkelana sampai ke puncak Adam, dimana di dekat puncak itu Jim sempat bertemu dengan seorang gadis yang sempat membuat dia jatuh cinta. Tapi sayang, akhirnya Jim harus meninggalkan gadis itu dan ikut serta kembali bersama dengan Armada Kota Terapung.

Ekspedisi terus berlanjut sampai berbulan-bulan. Armada kapal Laksama Ramirez terus bertahan empat bulan di atas laut tanpa menepi berkat jaring raksasa pemberian walikota tempat mereka berlabuh sebelumnya. Sejujurnya, aku agak ngerasa aneh mbayangin kapal besar seperti kapal Laksamana Ramirez buang sauh buat ngelempar jaring dan nyari ikan. Soalnya aku ngerasa selama ini kapal yang cari ikan pake cara kaya gitu cuma kapal nelayan. Tapi berhubung pengetahuanku soal kapal dan mencari ikan kaya gini ga terlalu banyak, aku komentar segini aja.

Akhirnya kapal Laksamana sampai di kota baru, kota Champa yang deskripsi latarnya rasanya mirip-mirip sama Negara Cina. Di kota ini, Laksamana dan pasukannya membantu penduduk kota menghadapi pemberontak yang jago ilmu kung fu. Tapi masalahnya justru jauh lebih besar bagi Jim, karena di kota ini Jim bertemu dengan seseorang yang bisa dibilang tiruan sempurna dari Nayla-nya. Mulai dari wajah hingga suara, semuanya mirip! Perasaan Jim terombang-ambing lagi. Apalagi setelah walikota menawarkan anaknya, yang mirip dengan Nayla itu, menjadi istri Jim dan Jim bisa tinggal dengan segala kemewahan pemimpin kota. Pilihan Jim terbagi antara menerima tawaran dan menjadi calom pemimpin kota, atau ikut kembali bersama Laksamana untuk menemukan Tanah Harapan? Sebuah pilihan yang sulit, tapi akhirnya Jim lebih memilih meninggalkan kota itu dan membantu Laksamana.

Perjalanan hampir mencapai akhir. Armada Kota Terapung terus berlayar di daerah lautan yang seolah tak bertepi. Entah berapa lama mereka berlayar dengan hanya melihat laut, laut, dan laut. Tanpa ada kejelasan bahwa mereka akan segera sampai menuju Tanah Harapan. Kondisi ini akhirnya memaksa sebagian prajurit dan kelasi memulai pemberontakan di atas Armada Kapal, bahkan sampai menyerang kapal utama tempat sang Laksamana berada. Akhirnya Laksamana memerintahkan perlawanan penuh terhadap para pemberontak, walau sebenarnya aku lebih mengharapkan Laksamana untuk menunjukkan kemampuan memimpinnya disini. Aku ingin lihat kemampuan diplomasi dan leadershipnya yang membuat dia bisa menjadi Laksamana dengan memberi satu perintah, atau penjelasan kepada prajuritnya sebelum akhirnya memilih menggunakan kekerasan. Memang dia kalah suara dalam rapat dengan para pemimpin kapal lainnya, Laksamana menginginkan damai sementara pemimpin kapal lainnya meminta kekerasan. Tapi justru disitu seharusnya kemampuan sebagai Laksamana ditunjukkan! Dia harus bisa dan berani menjalankan apa yang menjadi keputusannya sendiri walau menentang pendapat banyak pihak. Karena, dia laksamana-nya! Perintah dia atas seluruh kapal adalah mutlak! Dia harusnya lebih berani dalam menentang keputusan pemimpin kapal lainnya dan mencoba bernegosiasi dengan para pemberontak terlebih dulu.

Keudian, akhir cerita. Aku nggak mau banyak spoiler disini, karena itu hartanya penulis, tapi aku mau bilang kalo aku kecewa sama endingnya. Setelah sekian banyak petualangan dan perjuangan yang dilalui Jim dan kawan-kawannya, kenapa ending ekspedisi kapalnya malah cuma begitu aja? Padahal kalo mau dipanjangin lagi juga ga masalah tuh. Perjumpaan dengan Sang Penandai di akhir cerita juga yang bikin aku kecewa. Seperti yang dulu pernah di bahas di salah satu forum di internet, akhir cerita ini Sang Penandai bukannya menolong Jim yang memanggilnya malah ceramah panjang lebar entah berapa halaman tentang akhir yang seharusnya dilalui Jim. Padahal Jim sudah melalui semua petualangan itu sendiri, seharusnya dia bisa membuat kesimpulan sendiri! Gak perlu penjelasan panjang lebar dari orang yang ga nolongin dia sewaktu dia perlu!

GAYA PENULISAN

Hmm, oke. Sekarang mbahas soal gaya penulisan Tere-Liye. Komentar pertama dari gaya penulisannya adalah, bingung. Aku bingung sama sudut pandang yang dipake sang penulis, juga soal setting tempatnya. Awalnya, berdasarkan review yang aku baca di internet, aku anggep cerita ini ngambil setting di abad pertengahan. Standar gimana orang Indonesia bikin cerita fantasi. Tapi kemudian aku ketemu kata "kantor" disini. Otomatis aku jadi pindah pikiran, mbayangin kalo mungkin settingnya udah modern dikit. Jadi aku bayangin setting kotanya mirip-mirip sama London abad 19. Ternyata kemudian senjata utama para tokoh disini adalah pedang! Lihatlah! Deskripsi settingnya udah bikin aku bingung setengah mati. Jika kalian membaca novel ini dengan asumsi yang aku punya, niscaya kebingungan kalian akan serupa.

Lalu, sudut pandang. Biasanya sudut pandang yang diambil dalam novel fantasi adalah sudut pandang orang ketiga. Tapi dalam novel ini aku merasakan awal cerita seperti diceritakan dengan sudut pandang orang kedua, dengan kata "kalian" tersebar di berbagai tempat. Awalnya aku anggep bagus, baru pertama kali ini aku ketemu sama novel yang pake sudut pandang orang kedua. Tapi tanpa pertanda dan permisi sudut pandang itu diubah menjadi sudut pandang orang ketiga! Apalagi perubahan sudut pandang itu bisa terjadi dalam satu paragraf tanpa pemisahan sebelumnya. Lihatlah! Bagaimana penggunaan sudut pandang yang tidak konsisten ini bisa membingungkan orang yang membacanya. Jika kalian melihat wajahku waktu baca novel ini mungkin sudah bertanya-tanya, "Sakit perut kamu, Dan?"

Terus, aku ga tau apa ini kebiasaan atau ciri khas Tere-Liye, tapi buku ini ditulis dengan menggunakan kalimat yang bernada puitis. Lengkap dengan penjabaran emosi sang karakter melalui gaya puitisnya, sampai ke penemuan kosa-kata baru dari Tere-Liye untuk mengakomodasi gaya penulisan puitisnya. Dan, walau bagi sebagian orang gaya tulisan ini mungkin bisa dibilang bagus atau indah, aku malah ngerasa asing dan kadang-kadang ketawa sendiri waktu baca tulisan puitisnya itu. Mungkin agak sedikit menyinggung, tapi coba aku kasih contoh tulisannya.

Semua terlihat jingga. Matahari senja hampir terbenam di ufuk barat. Langit berwarna jingga. Buih ombak laut yang tenang memantulkan warna jingga. Bangunan-bangunan kota terlihat jingga. Pasir yang dipijak berwarna jingga. Gumpalan awan putih terlihat kemerah-merahan, jingga.

Hati Jim juga sedang jingga.


Nah! Ini cuman salah satu kalimat yang bikin aku ketawa waktu baca novel ini. Mungkin sang penulis sedang mencoba menjelaskan kondisi kota waktu itu yang penuh warna jingga. Tapi apa hubungannya warna itu sama kondisi hati Jim? Sampe nyebut hati Jim sedang jingga, emang hati jingga apa artinya?

Itu baru satu contoh dari sekian banyak kalimat puitis yang dibuat Tere-Liye dan salah satu contoh yang bikin aku ketawa. Selain kalimat puitis, Tere-Liye juga sering mengungkapkan perasaan karakter, atau apa yang dilakukan karakter dengan kalimat-kalimat pendek. Sering cuma dengan satu kata. Terkadang, cara ini berhasil, tapi terkadang juga aku rasa ga pas dan malah membuatku ga bisa masuk kedalam alam pikiran sang tokoh dan tindakannya. Tergantung orangnya juga mungkin.

Selain kalimat puitis dan kalimat-kalimat pendek itu ada satu lagi kebiasaan Tere-Liye, yaitu dia sangat sering menggunakan huruf italic untuk menekankan maksud tulisannya. Terkadang bukan cuma di kalimat2 yang penting tapi kalimat atau kata yang menurutku sama sekali tidak perlu diitalic. Entah kenapa dan apa maksud Tere-Liye dengan cara penulisan seperti ini, tapi yang jelas cara penulisan ini sangat mengganggu proses membaca sampai akhir.

Tapi ada satu yang aku bilang bagus dari novel ini, yaitu kepribadian tiap karakter yang jelas terlihat dari tindak-tanduk dan ucapannya. Khusus untuk Jim, hal ini juga terlihat dari konflik batinnya yang seolah selalu ada dari awal hingga akhir cerita. Sampai ia dijuluki Perwira yang Menangis dan sejenisnya. Walaupun aku agak aneh mbayangin gimana caranya orang bisa berantem sambil nangis gitu.

Ehm, aku ga tau ini penting apa nggak, tapi salah satu “kosakata baru” yang dibuat Tere-Liye disini juga termasuk penggunaan satu kata metafora tanpa pasangannya. Seperti jerih tanpa payah, atau kuyup tanpa basah (yang akhirnya juga jadi suasana hati Jim). Maksudnya emang nangkep tapi sempet bingung juga waktu baca. Dan juga Tere-Liye juga pake istilah Panekuk disini untuk sesuatu seperti prajurit ato semacamnya, sementara setauku Panekuk itu istilah bahasa Indonesia untuk Pancake. Aku ga tau kalo ada istilah lain, tapi jelas ini cukup bikin aku /swt.

Jadi, kesimpulannya novel ini lumayan bagus buat dibaca. Mungkin bisa jadi novel yang bagus banget buat orang yang suka gaya bahasa puitisnya, tapi buat yang ga kebiasa bolehlah dibaca buat selingan dari novel fantasi lokal yang selalu berisi tema “Pahlawan menyelamatkan dunia”

Skor: 3/ 5

Senin, 17 November 2008

Cerita yang tidak sempat diresensi

Buat ngisi blog sambil nunggu resensi berikutnya selese, aku mau pasang daftar buku yang ceritanya ga sempet aku resensi. Dan mungkin bakal lama sampe aku resensi lagi. Buku2 ini aku bagi jadi dua kategori, yang memuaskan dan yang tidak.

Tidak memuaskan:
Pinissi; Kisah Orang-Orang Setinggi Lutut.
Buku ini ga selese aku baca semata karena gaya ceritanya seperti sebuah dongeng untuk anak-anak. Yang mungkin juga jadi target market dari sang pengarang. Dan karena aku udah ga tertarik sama dongeng buat anak-anak, kayanya wajar kalo aku ga terlalu suka sama buku ini.

Candikala; Misteri Pulung Gantung
Kalo disuruh jelasin kenapa aku ga suka buku ini, aku bakal bilang "Tertipu endorser." Endorser di bagian belakang buku, yang membuatku tertarik membaca dan membeli bukunya, ternyata jauh berbeda dengan isi buku yang aku baca. Kesemua endorser itu berisi pujian kepada penulis, bagaimana mereka tidak bisa meletakkan bukunya setelah mulai membaca. Tapi aku justru merasa sangat bosan dan kecewa membaca Candikala ini. Benar-benar tidak worth it dengan uang yang aku keluarkan untuk membeli. Begitu banyak kesalahan dalam penulisan kalimat dan dialog sehingga membuatku berpikir, apa pantas diberi pujian setinggi itu?

Shalahuddin Al-Ayyubi
Masalah utama aku ga selese baca buku ini, karena buku ini tidak membuatku merasa "bergairah" untuk terus membaca. Data-data sejarah sang pengarang mungkin sangat banyak dan mencukupi, tapi aku tidak merasa tertarik untuk membaca sampai akhir.

Memuaskan:
Harry Potter series
Eragon
Eldest
The Old Man and The Sea
Golden Compass
Banyak buku, dengan satu alasan: Kesemua buku-buku ini membuatku serasa tertarik masuk kedalam dunia mereka, sehingga aku tidak merasa sedang membaca buku tapi seperti sedang mengikuti kisah perjalana sang tokoh utama dari awal hingga akhir. Membaca buku2 ini, serasa seperti sedang melihat sebuah film.

Senin, 27 Oktober 2008

Fireheart

FIREHEART; LEGENDA PALADIN; SANG PEMBURU


Sampul

Sampul dari buku satu ini bisa dibilang lumayan menarik perhatian; gambar seorang ksatria berambut merah dengan jubah yang hampir sama merahnya menutupi sebagian besar sampul depan novel ini. Kesan pertama dari melihat novelnya adalah “Dia ini pasti tokoh utamanya.” ga salah sih, walau dia yang ada di sampul novel ini bukan tokoh utama, tapi salah satu anggota kelompok tokoh utama. Di bagian atas sampul terdapat judul novel ini yang diberi efek timbul yang keren, berikut kedua sub judulnya. Ya, novel ini memang cuku unik dibandingkan novel lain yang pernah kubaca karena punya dua sub judul itu. Mungkin selain trilogi pengarangnya berencana membuat lebih banyak serial Fireheart.

Ada satu yang hampir luput dari perhatian waktu pertama kali melihat sampul Fireheart. Di bagian backgroundnya terdapat gambar sebuah menara atau istana yang sebagian besar tertutup oleh tubuh sang ksatria. Seolah ingin menunjukkan setting dari cerita. Pretty interesting. Bagian bawah dari sampul depan diisi dengan lambing penerbit Sheila. Sementara bagian belakang sampulnya berisi sinopsis dari novel ini. Berisi cuplikan dari adegan berbahaya yang dihadapi tokoh utama dan tujuan utama sang tokoh utama yang, tentu saja, harus menyelamatkan dunia dari ancaman bangkitnya kembali penguasa kegelapan.

Main Story

Cerita dari novel ini diawali dengan sedikit penjelasan mengenai dunia dan kerajaan yang menjadi setting cerita. Ditambah juga dengan sedikit penjelasan tentang pemburu dan guild mereka. Cukup ngasih gambaran tentang arti sub judul dan pekerjaan sang tokoh utama. Cerita lalu berlanjut tentang tugas yang diterima sang tokoh utama, yang bernama Robert, untuk membantai Orc dan pasukan kobold-nya. Seperti tipikal cerita seperti ini, sang tokoh utama awalnya berpetualang sendirian, apapun alasannya. Singkat kata, Robert akhirnya sampai di gua markas Orc dan pertarungannya dimulai. Aku sempet nemu beberapa masalah dalam logika di adegan bertarungnya ini.

Yang pertama, Kobold digambarkan sebagai makhluk setengah manusia setengah anjing, tapi waktu pasukan Kobold itu nyari Robert di dalam gua kok kayanya susah banget nyarinya. Kenapa ga pake penciuman anjingnya aja? Robert ga akan bisa sembunyi dari pasukan Kobold itu mau gelapnya gua kaya gimana juga. Berikutnya waktu si Kobold nggigit dada Robert, aku agak susah mbayanginnya. Gimana caranya rahang anjing bisa kebuka cukup lebar buat nggigit rompi Robert sampe sobek gitu? Kalo yang kegigit bagian lengan ato bahu aku masih bisa mbayanginnya. Bagian akhir pertarungannya juga kayaknya dibikin berakhir begitu saja. Robert menebaskan pedangnya untuk membuat satu jurus yang membelah tubuh Kobold menjadi dua bagian. Nah, kalo punya jurus hebat kaya gini kenapa ga dipake dari tadi?? Lebih gampang nyerang dari jauh daripada harus deket-deket sama musuh yang bikin dia luka parah sampe pingsan gitu.

Kemudian cerita dilanjutkan dengan adegan flashback si Robert ke suatu masa di waktu kecilnya. Sewaktu sepasukan Orc tanpa sebab yang jelas membumihanguskan desa kesayangannya. Ini pendapat pribadi dan orang lain bisa jadi punya pendapat yang beda, tapi menurutku cerita masa lalunya Robert ini terlalu panjang. Terlalu mudah ditebak. Dan sekaligus menghilangkan potensi greget dan pertanyaan yang bisa saja timbul di benak pembaca nanti kalau kisah masa lalu ini ditiadakan. Selama aku membaca dua bab khusus tentang masa lalu Robert ini yang ada dikepalaku cuma “Cepetan balik ke story utama dong!!” kisah dalam flashback-nya ini juga terasa lurus-lurus saja, akhirnya sudah bisa ditebak dari sinopsis di belakang buku.

Oke, kisah masa lalu akhirnya selesai dan perjalanan Robert akhirnya dimulai lagi. Dia mulai mendapatkan rekan-rekan baru dalam perjalannya dan berkeliling dunia semakin jauh dari kota asalnya. Seperti genre sejenis, Robert akhirnya berhadapan dengan monster-monster berwujud mengerikan, bertemu dengan karakter baru, dan terus bertualang mencari pekerjaan. Sampai dia bertemu dengan seorang kurcaci yang ternyata masih punya hubungan dengan salah satu rekan barunya. Robert menemani kurcaci itu kembali ke gunung tempat tinggalnya, hingga akhirnya Robert dituduh mencuri benda penting bagi kurcaci dan bahkan hampir dibunuh! Tapi untungnya, dia bisa selamat dari hukuman pembunuhannya itu.

Ada satu keanehan lagi yang aku temuin disini sih, yaitu masalah tempat tinggal kurcaci. Kenapa Bapa Andreas, kurcaci yang ditolong Robert, tinggalnya malah di gubuk bukan di gua? Aku ngerti sih kalo dia diasingkan sama kurcaci yang lain sampe tempat tinggalnya terpencil gitu, tapi apa dia ga bisa bangun gua baru di lembah itu buat tempat tinggalnya? Sori kalo pertanyaan ga penting, cuman bayanganku selama ini kurcaci itu tinggal dan tidur di gua, bukan di gubuk kayu.

Setelah dari gunung kurcaci, cerita lalu di-skip sampai Robert menerima sebuah surat undangan untuk melindungi sebuah pedang iblis. Pedang yang dikhawatirkan akan diambil kembali oleh sang pewaris kegelapan. Tidak cuma Robert, tapi puluhan, atau mungkin ratusan pendekar lain juga menerima surat serupa.

Setelah ini cerita secara mendadak menjadi penuh dengan karakter dan adegan action. Sampai bingung nama ini buat karakter yang mana. Apalagi ada dua orang yang punya gelar kaya bangsawan gitu. Selain para tokoh utama, yang kadang di narasi dijelasin pake istilah “pahlawan”, ada banyak sekali karakter lain yang berada disini untuk membantu para pahlawan. Sekaligus juga sebagai korban yang mati dalam perjuangannya. Ada kelemahan lain di bagian cerita ini selain masalah nama yang suka ketuker-tuker itu (masalah pribadi. Mungkin pembaca lain malah ga kerasa), yaitu saking banyaknya karakter yang ada disini, di tengah deskripsi bisa tiba-tiba ada satu jenis makhluk baru yang tadinya tidak diberitahukan kedatangannya. Ras seperti mausia kambing, tikus, atau kadal juga melengkapi daftar para pahlawan penjaga pedang iblis.

Dan, ngomong-ngomong soal kadal, logika soal manusia kadal itu juga agak aneh buat aku. Manusia kadal disini dideskripsikan sebagai makhluk berdarah dingin (dalam arti sebenarnya) yang menyukai tempat dingin! Which is weird, karena makhluk berdarah dingin seperti itu harusnya malah lebih suka tempat panas buat menghangatkan tubuhnya. Kalo nongkrong di tempat dingin bukannya malah jadi mati beku tuh kadal??

Cara para pahlawan melindungi pedang sihir juga aku masih agak ga ngerti. Buat ngelindungi pedang sihir Kraal’ shazaar dari sesuatu yang beredar melalui desas-desus, para pahlawan justru melewati semua penghalang dan jebakan yang disiapkan untuk melindungi pedang iblis sampai masuk jauh ke dalam. Kesannya kaya mereka sengaja buka jalan, ngancurin semua penjaga, lalu dengan pedenya berdiri di depan penghalang terakhir untuk menghabisi sang pewaris, setelah membuka jalan lebar untuknya berjalan santai dari pintu masuk kuil sampai halangan terakhir. Padahal lebih gampang, lebih simple, dan ga makan banyak nyawa kalo mereka semua bikin pasukan besar di depan kuil tempat pedang disegel sambil nunggu sang pewaris datang buat akhirnya dikeroyok rame-rame. Ga usah susah-susah ngalahin semua penjaga disana.

Setelah sang pewaris dikalahkan, sempet ada suasana tegang yang dibangun waktu Robert, dkk ketinggalan kapal. Tapi habis gitu jadi ilang begitu aja. Coba ditampilin adegan berantemnya. Ato dikasi satu plot twist di bagian itu. Pasti jadi lebih bagus.

Gaya Penulisan

Alright, sekarang membahas gaya penulisannya. Satu yang mesti aku bahas lebih dulu adalah format dari penempatan paragraf dan dialog dalam novel ini. Setiap paragraf dalam buku ini tidak ditempatkan secara penuh dari atas sampai bawah halaman, tapi ada jeda bagian putih yang keliatannya lebar banget dan sempet bikin aku ngerasa agak asing waktu awal-awal baca. Gara-garanya ini novel pertama yang aku baca yang pake penempatan paragraf kaya gitu. Penempatan dialog juga kayanya lebar banget antara paragraf diatas sama bawahnya. Ga terlalu mengganggu sih, cuman kerasa agak asing aja.

Dan, bagian berikut dari reviewanku ini mungkin bakal bikin banyak orang ngamuk (terutama yang suka sama novel ini), tapi kalo boleh jujur aku butuh perjuangan berat buat nylesein baca novelnya. Satu-satunya bagian yang membuatku tertarik adalah adegan berantemnya, dan pas adegan lagi “damai-damainya” aku malah ga bisa ngenikmatin. Malah cenderung kerasa bosen. Sempet beberapa kali aku punya pikiran buat put down this book and read something else, tapi tiap kali aku punya pikiran kaya gitu langsung ada suara dalem kepala yang bilang “Liat tuh! Om Pur aja udah bikin resensinya Fireheart. Masa kamu ga bisa?” Dan dengan semangat ingin membuat resensi yang baik buat novel ini, aku teruskan membaca sambil mencari sebab kenapa aku ga bisa ngenikmati baca novelnya.

Setelah perjuangan panjang membaca dan menganalisa, akhirnya aku nemu alasannya kenapa aku ga bisa enjoy baca novel ini. Dalam novel ini, aku ga ngerasa lagi ada di sebuah dunia fantasi dan melihat aksi petualangan para tokohnya. Aku juga ga ngerasa lagi ada dalam alam pikiran sang tokoh kalo misalnya tokoh itu lagi berpikir. Aku malah ngerasa kaya lagi diceritain kisah perjuangan Robert, dkk oleh orang lain yang sudah melihat petualangan mereka.
Mungkin kurang jelas kalo aku cuman ngomong gitu aja. Ini coba aku kasih contoh beberapa kalimat yang buat aku susah buat masuk kedalam alam fantasinya:

Dengan keras kepala, Eloise menendang tanah dan berjalan galau ke dalam istana. Sambil berjalan, ia melihat Robert sedang mengamatinya dengan tatapan acuh tanpa ekspresi.

Eloise berpikir,

Tampang anak ini muram sekali! Tapi, dia menarik juga. Hmm, mungkin…

Robert pun berpikir,

Dasar anak manja! Aku pasti dapat kesulitan kalau berda di dekatnya!

Lalu, pelayan istana yang memandu Robert tadi muncul dan memberi peringatan pada Robert.


Nah, itu bagian dialognya. Benernya ada beberapa dialog lain, tapi satu ini udah cukup buat jadi contoh. Dari kalimat diatas, bagian Eloise berpikir dan Robert berpikir itu yang bikin aku ga bisa masuk dalem alam pikiran mereka. Aku tidak “merasakan” kalau mereka itu berpikir, tapi “diberitahu” kalo mereka itu lagi berpikir. Begitu juga ketika karakter merasa tegang, atau tertawa. Aku hanya diberitahu perasaan mereka tanpa bisa ikut merasakannya.

Mungkin karena itu juga aku jadi ngerasa bosen sangat sewaktu adegan udah keluar dari battle dan masuk masa tenang sesaat. Selain itu, tidak ada pertanyaan atau ketegangan yang dibangun yang bisa memaksa pembaca untuk terus membaca (at least for me). Untuk sisi Robert, bagian ini sudah tidak mungkin bisa timbul karena segala pertanyaan tentang masa lalu Robert sudah dijelaskan habis-habisan dalam dua bab flashback diawal-awal.

Selain itu, novel ini juga diisi penuh sama berbagai macam jurus yang dikeluarkan karakternya. Sayangnya kebanyakan jurus hanya dijelaskan berupa nama, tanpa deskripsi bagaimana gerakannya. Berbeda dengan jurus sihirnya yang diberi penjelasan tentang bentuk sihirnya. Selain itu pengarang, Andry Chang, juga sering sekali mengulang berbagai macam nama yang dibuatnya. Mulai dari nama kuda, sampai ke nama senjata. Awalnya memang bagus kalau tahu senjata itu punya nama, berarti bukan senjata sembarangan. Tapi kalau terlalu banyak jadi membosankan juga. Apalagi pengulangan itu bisa terjadi di adegan battle yang seharusnya dibuat ber-pace cepat dan menekankan adegan battle-nya sendiri.

Lalu, apa ga ada sisi baik dari novel ini? Ga juga. Selain kesalahan yang udah aku sebut diatas, sisi positif dari novel ini adalah kepribadian para karakter yang terasa jelas dan berbeda satu sama lain. Kita bisa dengan sekejap tahu sifat dan kepribadian khusus tiap karakter bahkan waktu karakter tiba-tiba menjadi bejibun banyaknya. Mulai dari Christoper yang ceroboh dan serakah; Bapa Andreas yang bertugas sebagai penenang dalam tim Robert; Kedua karakter bergelar bangsawan dan pemimpin elf yang ketiganya jelas banget pengen jadi pemimpin dalam kelompok besar para pejuang; Juga ada Tina, cewek penyihir yang jauh lebih dingin dan pendiam daripada Robert; Dan sebagainya. Overall, novel ini benernya worth reading, kalo aja aku ga gampang bosen ditengah-tengahnya .

Skor: 2/ 5